- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
REVIEW JALUR PENDAKIAN PUNCAK BON 1852 MDPL VIA DUSUN BON DAN SEJARAH SINGKATNYA
Kali ini saya akan mereview rute Jalur Pendakian via Dusun Bon. Perjalanan di mulai dari Kota Denpasar pukul 06.00 hingga sampai di start point pukul 07.30 (sempet mampir foto - foto di Jembatan Tukad Bangkung ya). Untuk Start pointnya, itu ada simpang Y. Nah kita ke kanan masuk ke jalan Paving. Jadi jalan ini tidak masuk Google Maps ya. Lebih jelasnya bisa tonton Youtube Channel saya di link berikut https://youtu.be/VRMO-2V5EJo
Start pendakian kami mulai pukul 07.44. untuk jalurnya itu tunggal, jadi aman tidak akan nyasar deh. Tidak ada cabang sampai di puncak intinya. Untuk kontur medannya cukup lembab karena Hutan Tropis, 11, 12 seperti Rute Di Puncak Mangu, Tapak, Adeng, Lesung, Sanghyang, dan Batukaru.
Seperti biasa dimanapun ada pohon besar berisi canang, kami berhenti sejenak dan ikut menghaturkan canang sebagai bentuk permohonan ijin untuk diberi restu sampai ke puncak. Setelah 25 menit perjalanan, ketinggian 1540 MDPL kami menemukan satu pelinggih dan berisikan Bale Bengong yang masih rapi dan bersih. Jadi kami anggap ini POS 1 nya. Di sini kami rehat sejenak sambil melakukan persembahyangan.
Masuk di ketinggian 1600 MDPL sampai 1700 MDPL untuk rutenya benar benar nanjak super bak rute Gunung Pohen. Jadi selain menanjak, medannya juga ada tangga beton. Jadi lumayanlah memberi beban ke kaki. (FYI kami berdua belum makan pagi, karena hari raya sepanjang jalan Denpasar-Petang tidak ada warung nasi yang buka).
Masuk di ketinggian 1800 MDPL rutenya benar - benar sangat sangat landai, jadi udah gak ada nanjak - nanjak yang ektrim lagi. Sampai di Puncak di ketinggian 1852 itu pukul 08.50. Jadi kalau di hitung durasi naiknya cuma 1 jam 6 menit.
Jadi sejarahanya menurut rekan pendakian saya (Jadi ketemu di Puncak Penggilingan bulan lalu, beliau salah satu semeton dari Banjar Alangkajeng dan Puri Pemecutan). Beliau menyampaikan sejarah Puncak Penggilingan dan Juga Puncak Bon. Jadi dahulu, Danghyang Niratha berjalan menelusuri Bali dari Jawa Timur. Banyak tempat beliau yang dijadikan tempat pemujaan seperti Pura Pucak Tedung (Karena tedung beliau tertinggal di sana), Pura Perancak (Karena pisau kecil beliu tertinggal Di sana, nah ganggang pisau tersebut terbuat dari batang pohon Ancak), lalu Puncak Penggilingan (bersal dari kata “Eling”, jadi beliau ditempat itu ngelingang atau melihat atau mencium aroma wangi di sebelah timur) dan aroma wangi tersebut beliau kunjungi dan dinamakan Puncak Bon. Berasal dari kata “Bo” yang berarti wangi. (Kalau ada perbedaan kisah mohon komen dibawah ya, karena seperti yang kita tau Babad Bali itu berbeda - beda tergantung dari sumbernya).
Sekian review dari saya. Semoga bermanfaat ya. Untuk lebih akrab bisa di follow ya sosial media saya,
Youtube : I Wayan Ariawan
Instagram : wayan_ariawan
Twitter : @WayanAriawan3
Facebook : Wayan Ariawan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Mntaf lah
BalasHapusTerimakasih 😊🙏
Hapus